Proyek Puluhan Miliar Pendestrian Jalan Tegar Beriman, Diduga Abaikan Petani dan Masyarakat Bantenan

  • Whatsapp

 

 

Cibinong, Infofaktual.net- Ratusan tanaman singkong dan tanaman palawija lainnya milik petani RT 03 RW 09, Kelurahan Tengah Kecamatan Cibinong, kabupaten Bogor yang berbatasan dengan areal proyek pembangunan turap untuk jalur pendistrian dijalan Tegar Beriman Kabupaten Bogor.

Oleh pelaksana PT. HMSS senilai puluhan miliar, menuai keras petani dan masyarakat. Pasalnya, tanaman diatas tanah pribadi diurug Dan digusur, tanpa melalui proses musawarah dengan petani.

Bahkan pihak pelaksana kegiatan proyek tersebut langsung melakukan pekerjaan pengerukan dan pengusuran tanah dengan alat berat tanpa memperhitungkan ganti rugi terhadap penggarap lahan. Sehingga menimbulkan kesan masyarakat kecil tidak masuk perhitungan.

Saat ditemui, pemilik tanaman singkong. Marhasan hanya terdiam menyaksikan, tanaman singkong yang ditanamnya baru satu (1) minggu lalu. Dirinya melihat pohon-pohon singkong dan tanaman lain diurug tanah oleh alat berat yang digunakan dalam pekerjaan proyek tersebut, hingga dirinya tidak dapat berkata-berkata.

Ketua RT 03 RW 09 Kelurahan Tengah Junaedi, saat ditemui membenarkan, adanya penggunaan alat berat untuk pengerukan tanah diatas lahan milik masyarakat yang jelas-jelas ditanami pohon singkong.

“Sehingga adanya kerugiaan tanaman singkong yang diurug milik masyarakat lingkungannya untuk pembuatan turap penahan tanah. Padahal, dengan kondisi pandemi saat ini, ada harapan yang dapat dihasilkan dari tanaman tersebut minimal kerohiman atau ganti rugi dari pelaksana pekerjaan proyek besar tersebut,”ujarnya kepada infofaktual.net, Rabu (28/7/2021).

Junaedi menyayangkan, peran ketua lingkungan juga terkesan diabaikan, apakah karena melihat Ini peroyek besar jadi berhubungan langsung dengan pengusa daerah atau para petinggi daerah, Sehingga pejabat lingkungan setempat dilakukan pembiaran.

“Ataukah hanya bisa-bisa pelaksana kegiatan pekerjaan untuk mengurangi khos pengeluaran, hingga masyarakat kecil seperti petani tanaman singkong jadi korban. Saya tidak paham dah. Tapi Seharusnya hati nuranilah jadi dasar perhitungannya,” ucapnya.

Sementara pihak Pelaksana Pekerjaan (kontraktor red) saat ditemui, (Rabu, 28/7/2021) tidak ada ditempat. Hanya didapati pengawas konsultan pekerjaan.

Ketika dikonfirmasi terkait adakah bentuk ganti rugi terhadap tanaman petani yang jadi korban pekerjaan, mereka menjawab pelaksana dan kontraktornya sedang tidak ada.

 

“Silahkan tanyakan sama kontraktornya berkaitan kerugian yang ditimbulkan dari proyek ini,  kami hanya petugas Tarik meternya aja”. Ucap Salah satu konsultan pengawas pekerjaan senilai 63,8 miliar tersebut.

Sementara menurut ketua LSM Analisis Riset Monitoring Indonesia (Armi) Geno Benggol, saat ditemui (28/7/201) menyayangkan sikap kontraktor yang mengabaikan kerugian materil dan in materil dari kegiatan proyek tersebut. Apalagi ini kaitannya dengan kerugian yang dialami oleh masyarakat.

“Seharusnya dalam hal ini pemerintah daerah atau dinas yang membidanginya ini Dinas PUPR Kabupaten Bogor Peka, atau menekankan pada pihak kontraktor jangan hanya melihat hal yang besar tapi hal kecil apapun harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Menurutnya, jangan sampai ada pihak yang dirugikan sekecil apapun dari realisasi anggaran daerah yang dihasilkan dari pajak masyarakat dan hasil lainnya.

“Jelas kan hal itu untuk dianggarkan pada proyek dijalan tegar beriman. Sehingga nantinya tidak dinilai proyek bermasalah,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.